Oleh drg. Prieska Dinda A
07 August 2021
di Umum , Umum
Alam dan Kesehatan Mental

Pernahkah kita berpikir bahwa manusia membutuhkan alam untuk bertahan hidup?

Riset membuktikan bahwa ekosistem dimana kita tinggal tidak hanya esensial dalam menjaga kelangsungan hidup manusia dan mahkluk hidup lainnya, tapi juga sangat penting dalam memelihara kesehatan fisik dan kewarasan jiwa.

Padatnya rutinitas sebagai manusia modern kadang membuat kita tidak memperhatikan peran alam dalam hidup kita. Secara naluriah kita memahami bahwa kelestarian alam penting, tapi kita belum memiliki kesadaran akan kebutuhan primer untuk hidup bersahabat dengan alam. Secara praktis pun dalam kehidupan sehari-hari, kita belum memiliki kebiasaan untuk mempertimbangkan alam sebagai bagian dari hidup kita yang perlu dilindungi keberadaannya, atau sebagai bagian dari rumah kita bersama. Kurangnya kesadaran terhadap kebutuhan untuk terhubung dengan alam ini sebagian besar disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan ilmu yang dapat menjelaskan relasi antara manusia dan alam.

Untungnya, sekarang sudah banyak riset yang mulai bisa mengurai dan menjelaskan secara ilmiah fenomena-fenomena yang dapat terjadi ketika manusia berada di alam bebas. Betapa banyak perubahan-perubahan positif yang terjadi dalam diri manusia ketika kita hidup berdampingan dengan alam. Subjek-subjek penelitian secara umum menunjukkan emosi positif seperti level kebahagiaan yang meningkat, rasa tenang, indeks stress yang berkurang, lebih energetik, bahkan menunjukkan perilaku yang lebih ramah dibandingkan orang-orang yang tidak mengalami stimulus ‘hijau’. 1

Riset Terbaru

Sebagai contoh, ada studi pada tahun 2019 di Amerika yang menunjukkan bahwa anak-anak yang tinggal di perumahan dengan banyak area hijau menunjukkan peningkatan kontrol diri, memori, fleksibilitas kognitif dan kontrol perhatian yang baik. Sedangkan eksposure terhadap perumahan padat penduduk tanpa area hijau dikorelasikan dengan defisit atensi. Riset lain mengaitkan bagaimana beberapa murid yang harus menyelesaikan tugas, ternyata membuat kesalahan lebih sedikit ketika melihat atap yang dihiasi tanaman hijau dibandingkan murid-murid yang melihat atap beton. Stimulus lain berupa suara pun ternyata memiliki korelasi positif dengan peningkatan perhatian yang baik, seperti ditunjukkan oleh riset lain dimana peserta tes menunjukkan hasil yang lebih baik ketika mendengarkan suara jangkrik dan hempasan ombak, dibandingkan suara urban seperti kemacetan dan bunyi hingar-bingar di kafe yang sibuk.

Tidak hanya memiliki manfaat kognitif seperti peningkatan perhatian, menghabiskan waktu di alam juga terbukti dapat mengurangi tingkat stress, bahkan membawa emosi positif seperti kebahagiaan, interaksi sosial yang positif, serta kebeberadaan makna dan tujuan hidup yang lebih kuat. Suatu riset yang cukup popular di Jepang menunjukkan bahwa partisipan yang berjalan-jalan di hutan menunjukkan tekanan darah yang lebih rendah, peningkatan detak jantung, penurunan hormone stress, dan melaporkan mood yang lebih baik serta kecemasan yang lebih rendah, dibandingkan partisipan yang berjalan-jalan di suatu area urban. Riset lain di Denmark pada tahun 2019 yang meneliti data kohort dari tahun 1985-2003 menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh dalam area hijau yang lebih banyak, memiliki risiko lebih sedikit untuk mengalami gangguan psikiatrik di kemudian hari. Sedangkan anak-anak yang tumbuh dalam eksposure area hijau yang sangat sedikit, memiliki risiko 55% lebih tinggi untuk mengalami gangguan mental seperti depresi, mood disorder, schizophrenia, gangguan pola makan, dan penggunaan obat-obatan. Menghabiskan waktu di alam bahkan dapat membuat kita lebih mau berbagi dan lebih ramah, seperti ditunjukkan pada studi lain di Canada pada tahun 2019 yang memperlihatkan bahwa anak-anak sekolah menunjukkan kecenderungan sosial yang lebih baik terhadap orang asing setelah pulang dari karyawisata ke tujuan alam dibandingkan dari museum penerbangan.

 

Mekanisme Fenomena Hijau

Meskipun penelitian menunjukkan banyak perubahan positif pada tubuh manusia melalui berbagai indikator psikologis dan biologis ketika berhubungan dengan alam, mekanisme bagaimana alam mempengaruhi perubahan – perubahan tersebut belum sepenuhnya dapat dipahami.

Ada beberapa teori yang dapat menjelaskan mengapa manusia mengalami banyak manfaat ketika berdekatan dengan alam, seperti Hipotesis Biofilia, Reduksi Stress, dan Attention Restoration theory. Hipotesis Biofilia mengusulkan bahwa para leluhur kita yang berevolusi di alam bebas, bergantung sepenuhnya terhadap lingkungan untuk bertahan hidup, maka dengan demikian kita memiliki insting bawaan untuk terhubung dengan alam. Hipotesa Reduksi Stress menjelaskan bahwa menghabiskan waktu di alam memicu respons fisiologis yang menurunkan level stress. Hipotesa ketiga, Attention Restoration Theory, berpendapat bahwa alam mengisi kembali sumber daya kognitif manusia, memulihkan kemampuan seseorang untuk berkonsentrasi dan memberi perhatian.

 

Bersahabat dengan Ala,

 

Bersahabat dengan Alam

Lim Pei Yi dkk (2020) dalam risetnya yang berjudul A Guide to Nature Immersion: Pshychologial and Physiological Benefits mengatakan bahwa terdapat 3 bentuk kontak manusia dengan alam yang selama ini telah diteliti, yaitu: memandang alam, berada di alam bebas, dan beraktifitas di alam bebas. 2

Meskipun menurut penelitian cukup hanya dengan memandang gambar pemandangan alam saja dapat melepaskan rasa penat atau stress sesaat, untuk mendapat manfaat sepenuhnya secara lebih nyata, ternyata kita harus benar-benar terhubung dengan alam setempat, baik secara pasif seperti bermeditasi, ataupun aktif seperti berjalan-jalan. 

Ada beberapa budaya yang dengan sadar mempraktikkan kegiatan beraktivitas di alam bebas sebagai bentuk terapi psikologis. Praktik shinrin-yoku atau forest bathing di Jepang dipercaya ampuh untuk mengurangi tingkat stress masyarakat urban. Praktik ini berasal dari Jepang sejak tahun 1980an dan berkembang begitu besar sehingga saat ini menjadi suatu program nasional di Jepang. Konsep dari praktik forest bathing adalah mengalami alam bebas melalui seluruh indra perasa. Baik berdiam, bermeditasi, berjalan ataupun berkegiatan secara aktif di ruang hijau didorong untuk merangsang respon fisik, psikologis dan emosional yang positif dan menyembuhkan. Aerosol yang dikelularkan oleh pohon-pohon, disinyalir dapat meningkatkan aktivitas imun tubuh dan sel NK (Natural Killer - bagian dari sistem kekebalan tubuh manusia yang menyerang sel kanker) pasien. Tidak hanya di Jepang, Korea Selatan juga menerapkan program serupa di negaranya. Korea Selatan mengimplementasikan Forest Therapy Program yang melibatkan pesertanya untuk melakukan aktivitas seperti meditasi, musik terapi, kesenian kayu, upacara teh, berolahraga, dan berjalan-jalan dalam hutan sebagai bentuk relaksasi dan penyembuhan. Tekanan darah dan detak jantung diukur sebelum dan setelah memasuki hutan, sebagai indikator ukuran kesehatan. 3 Di belahan dunia lain, negara-negara Skandinavia sudah mempraktikkan pembelajaran “sekolah hutan”, yaitu praktik belajar-mengajar di alam bebas yang menjadi tradisi sejak lama. Sejak tahun 2012, Amerika meniru pendekatan serupa dan telah membangun banyak sekolah dan taman kanan-kanak dengan outdoor setting, yang dimaksudkan agar anak-anak belajar dan bermain di luar ruang kelas.

Keeren Sundara Rajoo dkk (2020) dalam penelitiannya yang bertajuk The physiological and psychosocial effects of forest therapy: A systematic review, telah mengkonfirmasi manfaat-manfaat ini dan menyimpulkan bahwa Terapi Hutan memainkan peranan penting dalam ilmu kedokteran pencegahan dan manajemen stress untuk semua golongan usia. 4

Eksploitasi terhadap perubahan teknologi yang begitu pesat, penggunaan smart phones dan teknologi mutakhir lainnya, perubahan iklim, serta banyaknya kehilangan biodiversitas dan habitat alami flora-fauna telah membuat begitu banyak ilmuwan, akademisi, dan aktivis prihatin akan dampaknya terhadap keberlangsungan hidup manusia. Para praktisi kesehatan, pemerhati lingkungan, dan badan pemerintahan mulai berpikir bagaimana membawa alam kembali ke dalam kehidupan manusia sehari-hari.

Sebagai contoh, periset dan pembuat kebijakan di negara-negara maju sekarang mulai berdiskusi tentang bagaimana menambahkan atau memasukkan unsur alam ke dalam area urban seperti desain taman, sekolah, dan institusi-institusi lainnya. Kota-kota besar mulai berpikir untuk menambahkan desain jendela yang besar, dan akses ke areal hijau (hutan atau taman) atau areal biru (laut, sungai, danau). Industri bisnis pun mulai secara bertahap mengenali keinginan karyawannya untuk memiliki akses terhadap ruang terbuka hijau. Florence Williams dalam bukunya, The Nature Fix, mengatakan bahwa hal ini penting untuk menarik tenaga kerja yang terampil. Saat ini, ternyata banyak anak muda yang menginginkan pengalaman outdoor berkualitas tinggi. 5

Meski masih menyisakan sebagian misteri, tetap jelas bahwa hidup bersahabat dengan alam membawa banyak manfaat untuk manusia dari segi fisiologis maupun psikologis. Hubungan ini harus semakin dipupuk supaya adanya kebermanfaatan yang berkesinambungan antara manusia dan alam. Karena manusia mendapatkan banyak manfaat nyata dari hidup terhubung dengan alam, maka sudah seharusnya kita sebagai manusia pun masing-masing memiliki komitmen untuk tidak hanya menikmati, tetapi juga mempedulikan dan menjaga Ibu Bumi agar tetap pada kondisi alaminya.

Jelas bahwa mengikutsertakan bahkan mengimplementasikan praktik hidup bersama alam dalam kehidupan sehari-hari menjadi hal yang krusial dan perlu dipertimbangkan dalam setiap aspek kehidupan maupun pekerjaan kita. Alam tidak hanya menyokong kehidupan manusia, tetapi juga membawa kesembuhan dan energi yang belum sepenuhnya dapat ditangkap oleh sains. Namun demikian, mempedulikan bumi akan menjadi lebih mudah dan lebih personal jika kita menyadari bahwa melindungi bumi berarti melindungi kesejahteraan dan kesehatan kita sendiri sebagai manusia.

Richard Louv, penulis buku Last Child in the Woods pada tahun 2005 dan penemu istilah Nature Deficit Disorder, mengatakan bahwa dulu subjek ini sangat diabaikan oleh dunia akademik dan riset yang baik sangat sedikit. Sekarang riset yang meneliti tentang hubungan alam dengan manusia hampir melewati 1000 jumlahnya dan semuanya mengarah kepada suatu kesimpulan: Alam bukan hanya nyaman untuk dinikmati, tetapi adalah suatu elemen yang wajib untuk kesehatan fisik dan fungsi kognitif manusia.

 

Sumber:

  1. American Psychological Association. (2020, April). Nurtured by nature. Monitor on Psychology51(3). http://www.apa.org/monitor/2020/04/nurtured-nature

  2. Lim, P. Y., Dillon, D., & Chew, P. (2020). A Guide to Nature Immersion: Psychological and Physiological Benefits. International journal of environmental research and public health17(16), 5989. https://doi.org/10.3390/ijerph17165989

  3. William, Florence. (2017) https://ideas.ted.com/can-trees-heal-people/ diakses 7 Juli 2021

  4. Rajoo, Keeren Sundara (June 2020). "The physiological and psychosocial effects of forest therapy: A systematic review". Urban Forestry & Urban Greening. 1 (2): 64–74. doi:10.1016/j.ufug.2020.126744.

  5. Robbins, Jim. (2020). Ecophyschology: how immersion in Nature benefits your health. Yale Environment 360.https://e360.yale.edu/features/ecopsychology-how-immersion-in-nature-benefits-your-health