Oleh Aris Munandar
07 June 2022
Antisipasi Penyakit Berbasis Lingkungan dengan Bantuan Pembangunan Toilet Keluarga

Cahaya mulai utuh menerangi Desa Nusa Poring. Terang pun menampakkan seorang lelaki turun dari rumah dengan raut wajah gelisah berjalan menuju Sungai Mentatai yang berjarak kurang dari 100 meter dari rumahnya. Kegelisahannya bersumber dari mulas di perut yang tengah ditahan dan tujuannya adalah jamban (overhung latrine) yang terletak di sungai.

 

Jika pada waktu yang sama juga ada yang hendak buang hajat, harus memilih tempat lain. Karena jamban yang digunakan bersama itu memang tengah ada pemakainya. Jika malas mencari jamban lain yang memang berjarak dari jamban tadi, pohon tumbang yang ada di sungai pun menjadi pilihan. 

 

Berpindah waktu ke sore hari sepulangnya bekerja di ladang, aktivitas mandi, mencuci pakaian, mencuci piring, dan buang hajat menyatu di jamban itu. Sementara yang tak ke ladang melakukan aktivitas mencuci piring dan pakaian pada siang harinya.

 

Terlepas dari pilihan waktu, ada kesamaan pada warga-warga sepulang dari Sungai Mentatai selain membawa pakaian, perlengkapan makan, dan beberapa bagian tubuh yang masih basah. Yaitu mereka membawa air dalam jerigen berukuran 5 liter untuk kebutuhan minum dan memasak di rumah masing-masing.

Hal yang sama juga dilakukan Rita (35) bersama suaminya di sore hari. Diboncengi sepeda motor oleh suaminya dari rumah, ia dan anaknya juga menuju jamban tempat lelaki tadi pagi datangi. Berkemban kain dan ember berisi perlengkapan mandi dan beberapa jerigen berukuran 5 liter yang dipangkunya, Rita sekeluarga sudah pasti hendak bebersih diri di sungai seusai bekerja.

 

Sekira 15 menit di sungai, deru motor yang ditumpangi Rita bersama suami dan anaknya kembali melintas. Dengan jerigen yang sudah dipenuhi air Sungai Mentatai untuk kebutuhan minum keluarganya.

 

Minum dari sumber air bersih yang sama dengan tempat melakukan aktivitas mandi, cuci, dan kakus (MCK) memiliki resiko terserang penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang ada di tinja manusia seperti Escherichia coli, Salmonella typhi, dan lainnya. Itulah yang dialami Rita pada April lalu. Ia datang ke Klinik ASRI dan mengeluh merasakan podih porut (sakit perut). 

 

“Pas periksa, katanya kena diare karena minum air ndak dimasak,” ucapnya. Juniardus Stepen, anak laki-lakinya yang berusia 2 tahun juga minum dari air yang sama, dan mengalami diare beberapa bulan lalu. Disertai demam dan muntah.

 

Menurut data kesehatan Klinik ASRI di Desa Nusa Poring dan Desa Mawang Mentatai, penderita penyakit berbasis lingkungan seperti diare dan tifoid menunjukkan peningkatan signifikan pada tahun 2019 dan awal tahun 2021. Serta masuk dalam daftar 10 penyakit yang paling banyak ditangani oleh Klinik ASRI di 2 desa itu. 

 

Diare seperti dialami Rita dan anaknya tak bisa dianggap hanya sebatas sakit perut. Diare mendominasi penyebab kasus meninggalnya bayi di Indonesia. Belum lagi masalah stunting dan kekurangan gizi kronis pada bayi dan anak akibat kurangnya kemampuan usus dalam menyerap nutrisi makanan.

Menyadari pentingnya pencegahan penyakit berbasis lingkungan bagi kualitas hidup masyarakat, sejak 2008, Kementerian Kesehatan telah mencanangkan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dan diperkuat dengan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No. 3 Tahun 2014. Di dalamnya juga ada langkah-langkah agar masyarakat terhindar dari penyakit berbasis lingkungan akibat sanitasi yang buruk. Seperti tidak Buang Air Besar Sembarangan (BABS), cuci tangan pakai sabun, pengolahan air minum rumah tangga, pengolahan sampah rumah tangga, dan sarana pengolahan air limbah. Di dalam Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan poin ke-6, terdapat keharusan menjamin ketersediaan pengelolaan air bersih dan sanitasi layak yang berkelanjutan untuk semua.

 

“Sanitasi yang baik ini dapat didukung dengan adanya toilet yang sehat di setiap rumah tangga. Toilet dengan tempat pembuangan tinja yang terstandarisasi secara kesehatan dapat menghindari adanya kontaminasi bakteri pada kotoran ke dalam sumber air,” ucap dokter Klinik ASRI-BBBR, dr. Meilia Nur Chrisandra.

 

ASRI yang mengusung gagasan kesehatan planetari meyakini bahwa kesehatan lingkungan yang buruk juga akan berdampak pada kesehatan masyarakatnya. Pada kasus diare di 2 desa penyangga Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya ini, ASRI tak hanya ingin menjawab permasalahan kesehatan masyarakat menggunakan pendekatan kuratif, yaitu menyediakan layanan kesehatan. Namun juga Tindakan preventif untuk mengatasi penyebab masalahnya.

 

Setelah menjalankan program pembagian saringan air untuk mengurangi resiko konsumsi air mentah yang terkontaminasi bakteri penyebab diare untuk masyarakat di 2 desa ini pada Desember 2021 lalu, ASRI juga ingin membuat masyarakat memperoleh akses sanitasi yang sehat dan layak. Untuk menghindari air bersih mereka tidak tercemar langsung oleh kotoran atau tinja.

 

“Maka dalam konteks penyelesaian masalah diare ini, langkah preventifnya dibangunlah toilet keluarga untuk setiap rumah tangga guna membentuk kesehatan lingkungan yang diharapkan hal ini dapat menopang kesehatan manusianya,” ucap Manager Program Replikasi ASRI-BBBR, Thomas Wendorise Rakam.

Program bantuan toilet yang pendanaannya didukung oleh Tropical Forest Conservation Act Kalimantan (TFCA Kalimantan) ini melalui berbagai proses. Dimulai dari penyadartahuan masyarakat akan pentingnya sanitasi yang baik dan kesehatan lingkungan. Lantas dilanjutkan dengan pendataan rumah-rumah yang tidak memiliki toilet. 

 

Awalnya, direncanakan hanya akan ada 150 keluarga yang akan menerima bantuan toilet. Namun melihat urgensi kebutuhan masyarakat akan toilet ini, penerima bertambah menjadi 215 rumah. Menyiasati keterbatasan anggaran, prinsip cost-sharing pun dipakai dalam pembangunan toilet ini. Di mana penerima toilet juga berkontribusi dalam penyediaan bahan bangunan dan septic tank. Sementara ASRI menyediakan pipa, kloset, semen, dan material lainnya.

 

Kian seringnya penyakit-penyakit yang bersumber dari air konsumsi yang terkontaminasi bakteri itu muncul, kesadaran akan pentingnya sanitasi yang baik di masyarakat pun semakin meningkat. Lantas muncul kerinduan akan kehadiran toilet yang dihalangi oleh kemampuan finansial. Keadaan-keadaan itu membuat tingkat ketergunaan toilet pun menjadi tinggi dan menjadikan perubahan perilaku masyarakat tidak lagi buang hajat di sungai bisa diwujudkan.

 

“Jadi bantuan ASRI itu sebetulnya bantuan yang mengobati rasa rindu mereka. Itulah yang kemudian membuat rasa memiliki toilet ini oleh masyarakat begitu kuat,” katanya.

Apa yang diucap Thomas sejalan dengan yang dikatakan Mulyadi (36 tahun), satu diantara 23 penerima bantuan toilet di Dusun Mengkilau, Desa Nusa Poring. Ia sadar akan pentingnya toilet bagi kesehatan dan telah berencana membangun toilet. Namun keterbatasan dana untuk membangun toilet di rumahnya membuat Mulyadi dan keluarga masih melakoni kebiasaan buang hajat, mandi, dan mencuci di sungai. 

 

“Kami punya rencana membangun toilet. Hanya saja tentu menunggu adanya uang lebih baru bisa dibangun. Karena kalau tidak dibangun, ya kita sendiri yang susah,” katanya.

 

Kini usai toiletnya jadi, ia tak pernah lagi melakukan aktivitas MCK di sungai. Di tambah air yang sudah mengalir sampai ke toiletnya membuatnya merasa lebih dimudahkan. Hingga tak ada lagi alasan baginya untuk tidak menjalankan sanitasi yang sehat.