Oleh Aris Munandar
05 April 2022
Bangga Bisa Memberikan Pelayanan Kesehatan Sekaligus Menjaga Hutan

Empat menit lagi akan menunjukkan pukul 8 pagi, menandakan Klinik ASRI Mawang Mentatai akan memulai jam pelayanannya. Tampak dr. Dara yang duduk di dekat pintu masuk klinik sudah siap menerima pasien. Terlihat dari baju medis yang sudah dipakainya dan stetoskop yang berada di atas mejanya.

 

Sambil menunggu jam pelayanan klinik dibuka, dr. Dara dan Bidan Vini tampak asik berbincang. Mereka tengah membicarakan kondisi terbaru dari seorang pasien penderita tuberkulosis (TB) paru yang berusia 70-an tahun yang ada dalam pemantauan ASRI. Lalu membicarakan secara umum kondisi penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri ini di 2 desa yang masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi yang menjadi tempat ASRI menjalankan programnya, yaitu Desa Mawang Mentatai dan Desa Nusa Poring. Dua desa itu juga merupakan desa penyangga Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya.

 

Di tengah obrolan mereka, tampak seorang ibu hamil menghampiri klinik. Kabar bahwa Klinik Mawang Mentatai sudah bisa melayani pemeriksaan ultrasonografi (USG) sudah sampai pada ibu hamil itu. 

 

“Dok, saya mau periksa USG. Katanya mereka di sini bisa periksa USG ya?” kata calon ibu bernama Novi itu memastikan. 

 

Dokter asal Takengon, Aceh ini pun membenarkan. Dibantu Bidan Vini, dr. Dara pun mempersiapkan peralatan USG. 

 

Usai tindakan USG itu, Novi pun mengucapkan terima kasih dan bersyukur karena bisa melakukan USG di Klinik ASRI Mawang Mentatai. Karena kalau tidak, ia harus ke fasilitas kesehatan yang ada di ibukota kecamatan Melawi untuk melakukannya.

 

“Dulu mereka harus ke Puskesmas Menukung untuk periksa USG,” katanya sembari tersenyum. Jarak dari Desa Mawang Mentatai ke Menukung sendiri sekitar 1 jam menggunakan sepeda motor. Belum lagi jalan khas perbukitan yang beresiko untuk ibu hamil. Opsi jalur sungai dengan perahu bermotor akan memakan waktu yang lebih lama dan biaya yang lebih besar.

 

Usai melakukan pemeriksaan USG dan melayani beberapa pasien lainnya, pukul 11 siang, dr. Dara dan perawat di Klinik Mawang Mentatai sudah punya janji dengan Petugas Menelan Obat (PMO). Mereka akan mengunjungi pasien TB di 2 dusun yang ada di Desa Mawang Mentatai, yaitu Dusun Mawang 1 dan Pintas Kemantar. 

 

Salah satu pasien yang akan dikunjungi adalah yang dibicarakannya bersama Bidan Vini tadi pagi. Ditemani PMO, dr. Dara dan seorang perawat pun berjalan kaki mengunjungi rumah pasien yang berjarak 140 meter dari klinik. Sesampainya di rumah pasien, dr. Dara berdialog dengan pasien dan istrinya. Dibantu oleh PMO yang merupakan warga setempat saat ada kendala komunikasi. Karena bahasa lokal yang digunakan pasien dan istrinya ada beberapa yang belum dimengerti dr. Dara.

 

Setelah menanyakan beberapa pertanyaan terkait kondisi pasien beberapa waktu terakhir, dr. Dara pun melakukan beberapa pemeriksaan, seperti tekanan darah, asam urat, dan lainnya pada pasien. “Bapak harus rajin minum obat ya. Ibu juga tolong perhatikan makanan bapak,” kata dr. Dara, lalu diterjemahkan oleh PMO kepada pasien dan istrinya agar dapat tersampaikan dengan baik.

 

Selesai mengunjungi pasien TB, PMO bernama Rosaria Nora itu pun menceritakan perubahan yang dirasakan masyarakat di 2 desa itu dalam mengakses layanan kesehatan. “Dulu kami berobat harus ke Puskesmas Menukung. Ngojek motor ke sana habis 100 ribu. Belum lagi biaya berobatnya. Setelah ASRI mendirikan klinik di Mawang Mentatai dan Nusa Poring dan menyediakan nakes (tenaga kesehatan), kami berobat lebih mudah,” ucapnya.

 

Termasuk juga pendampingan pasien TB. Keberadaan nakes di desa itu juga meningkatkan angka kesembuhan, karena terus didampingi dan dikunjungi secara rutin. “Kini masyarakat pun mulai sadar bahwa mereka bisa sembuh dengan rajin minum obat dan tak lagi malu untuk berobat saat menderita penyakit ini karena sosialisasi-sosialisasi yang diberikan dr. Dara,” katanya.

 

Selain melakukan pelayanan di klinik dan melakukan kunjungan ke rumah pasien, dr. Dara juga biasanya memberikan sosialisasi terkait kesehatan kepada masyarakat. Mulai dari penjelasan mengenai suatu penyakit hingga mengajarkan masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat. Ia juga harus membagi rata waktu pelayanannya setiap bulan untuk berada di Klinik Mawang Mentatai dan Klinik Nusa Poring.

 

Mendapat timbal balik positif seperti yang diucapkan Novi dan Rosaria Nora, dr. Dara mengaku selalu senang. Hal itu ada dalam bayangannya ketika pemilik nama lengkap Siti Fatimah Zahra ini memilih mengabdi sebagai dokter di Klinik ASRI di dua desa penyangga Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya itu. 

 

Pilihannya untuk berjarak ribuan kilometer dari kampung halaman dan keluarga terbayarkan karena rasa puas dapat membantu masyarakat yang kesulitan mengakses layanan kesehatan. “Rasa dibutuhkan dan dapat memberikan pelayanan itu perasaan yang menyenangkan. Itu hal yang luar biasa. Aku bersyukur punya tempat untuk melakukan itu,” kata wanita yang mendapatkan gelar dokternya di Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) ini. 

 

Dia pun menjelaskan lebih jauh bahwa alasannya memilih bertugas di 2 desa penyangga Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya ini karena ia merasa akan lebih dibutuhkan dibanding bertugas di kota atau daerah yang sudah memiliki fasilitas pelayanan kesehatan yang lengkap.

 

Tentu ia menyadari akan tantangan yang dihadapinya saat ia memilih mengabdi di 2 desa terpencil itu. Mulai dari infrastruktur seperti jalan, listrik, dan jaringan komunikasi, hingga kendala budaya dan bahasa yang berbeda dari tempat ia berasal. Karena sebelum ia menetapkan pilihan, ia telah melakukan riset terkait kondisi 2 desa itu. “Kondisi di sana membuatku berpikir bahwa aku memang dibutuhkan di sana,” ujarnya.

 

Selain itu, Dara juga mengatakan bahwa alasannya memilih ASRI sebagai wadah ia mengabdi karena tertarik dengan konsep kesehatan planetari yang dipraktekkan dengan menggabungkan program konservasi dan pelayanan kesehatan dengan jargon “selamatkan hutan dengan stetoskop”. Program kesehatan, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh ASRI menurutnya satu solusi untuk membenahi beberapa masalah yang terjadi. Seperti sulitnya akses kesehatan di daerah terpencil, kerusakan ekosistem hutan, hingga ketersediaan alternatif pilihan bermata pencaharian masyarakat yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. “Aku juga senang karena aku merasa aku orang yang berjasa. Berjasanya untuk bumi, kesehatan juga, membantu masyarakat juga,” katanya.

 

Implementasi dari memadukan kesehatan dan konservasi juga terlihat dari program ASRI yang memberikan alternatif pembayaran berobat menggunakan bibit pohon. Mulai dari bibit pohon buah hingga bibit pohon endemik. ASRI juga memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menabung bibit yang sewaktu-waktu akan digunakan untuk berobat. “Jadi saat berobat mereka hanya perlu bayar pakai tabungannya. Mereka jadi tidak perlu bawa duit. Itu sih juga yang membuat ASRI jadi menarik. Karena akan sangat meringankan pasien,” katanya. 

 

Hal itu membuat pasien yang datang ke Klinik ASRI tak perlu mengkhawatirkan biaya berobatnya. Termasuk juga pasien-pasien dengan penyakit kronis yang butuh pemantauan dan kunjungan rutin.

 

Bibit dari pembayaran berobat masyarakat itu akan digunakan kembali oleh ASRI untuk melakukan reboisasi di sekitar kawasan TNBBBR. Seperti analogi yang digunakan oleh Dara bahwa bumi saat ini udah sesak nafas. “Dengan mensinkronkan kedua hal itu, kita juga bisa menggerakkan manusianya juga ikut peduli terhadap hutan. Seperti yang dilakukan ASRI di BBBR ini. Bibit yang dibayarkan pasien berobat digunakan lagi untuk di tanam di hutan gundul dan lahan-lahan kritis,” ucapnya.

 

Juga ada diskon berobat sebesar 25 persen bagi masyarakat di 9 dusun di 2 desa penyangga TNBBBR yang telah menandatangani perjanjian kerjasama dengan ASRI. Persentase diskon itu akan meningkat hingga 70 persen jika masyarakat di dusun berkomitmen untuk menghentikan sepenuhnya aktivitas illegal logging.