Oleh Laetania Belai Djandam
09 March 2020
Berkunjung ke Area Reboisasi Laman Satong

Halo! Nama saya Laetania Belai Djandam, seorang aktivis lingkungan dan relawan di ASRI. Pada hari Senin, 9 Maret 2020 lalu saya bersama dengan 2 relawan lain (Amaala dan Jan) mengunjungi area reboisasi ASRI dan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) yang terletak di Dusun Pangkalan Tapang, Desa Laman Satong, Kalimantan Barat. Selama disana, kami dipandu oleh Kak Mahardika (Manajer Konservasi ASRI) dan Pak Jul (Staf Reboisasi Laman Satong) yang menceritakan tentang sejarah dan perkembangan dari program konservasi ASRI.

 

Program konservasi ASRI yang terbentuk pada tahun 2009 pada awalnya dilaksanakan sebagai program kredit karbon, dimana perusahaan-perusahaan harus membayar sejumlah uang untuk karbon yang dihasilkan. Dari situ, biaya yang dibayar digunakan untuk mendukung program reboisasi. Namun, ASRI ingin mengembangkan program ini agar reboisasi hutan dapat terjadi tanpa harus bergantung kepada ada atau tidaknya perusahaan yang melakukan kredit karbon. Akhirnya, ASRI menciptakan program konservasi yang sampai sekarang sudah dengan sukses mereboisasikan 30 hektar hutan di Laman Satong, yang termasuk kawasan TNGP. Hebatnya, program konservasi ini tidak hanya fokus kepada upaya reboisasi tetapi juga kepada upaya menyediakan mata pencaharian alternatif bagi masyarakat. Menurut saya, ini menjadi poin unik dari program ini, karena ASRI tidak hanya menjaga dan melestarikan hutan di kawasan TNGP tetapi dalam proses tersebut juga memberdayakan masyarakat di kawasan reboisasi. 

 

Secara garis besar, program reboisasi ini terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama terjadi di tempat persemaian dan mencakup proses pengumpulan bibit baik dari pasien klinik ASRI melalui pembayaran non-tunai maupun dari hutan untuk dibawa kembali ke tempat persemaian. Dalam tahap ini, para pekerja harus memerhatikan tingkat kelangsungan hidup spesies bibit yang dikumpulkan dan faktor-faktor yang memengaruhinya untuk memaksimalkan tingkat kesintasan bibit tersebut. Tahap kedua adalah proses perawatan bibit pada tempat persemaian, atau yang disebut dengan nursery. Tahap ini bisa berlangsung selama beberapa tahun, sampai tinggi bibit mencapai kurang lebih 40-50cm. Tahap terakhir adalah proses pemindahan bibit yang sudah siap dari tempat persemaian ke lokasi reboisasi. Bibit-bibit tersebut ditanam dengan kepadatan 3,100 pohon dengan kurang lebih 30-40 spesies pohon dalam setiap hektarnya. 

 

Satu hal yang selalu membuat saya kagum dengan upaya reboisasi adalah jumlah waktu yang dibutuhkan untuk melakukannya. Kapan kita dapat mengatakan bahwa proses reboisasi sudah selesai? Ketika pohon sudah mencapai umur dan tinggi tertentu? Ketika hutan sudah sepenuhnya pulih? Sulit untuk dibilang, karena menurut saya pun proses reboisasi tidak akan pernah ada akhirnya. Namun hal inilah yang justru membuat upaya konservasi sesuatu yang patut didukung dan diapresiasi terus. Hal ini semakin nyata bagi saya ketika kami melihat satu pohon ulin, yang meskipun sudah ditanam selama kurang lebih 5 tahun, baru mencapai tinggi 20cm. Saya tidak habis pikir, karena deforestasi yang terjadi melalui penebangan liar dapat terjadi dalam waktu 5 menit, sementara upaya reboisasi untuk menumbuhkan kembali satu pohon saja bisa membutuhkan ratusan, bahkan ribuan tahun. Selain itu, upaya reboisasi ini juga akan terus menghadapi tantangan baru, seperti krisis iklim yang memengaruhi keberlangsungan hidup pohon-pohon yang ada. Proses ini tidak hanya memakan waktu yang lama, tetapi merupakan proses yang harus terus diperbaharui sesuai dengan teknologi dan tantangan yang terus berubah. Inilah yang membuat saya kagum ketika dikenalkan dengan program konservasi ini. 

 

Sebagai seorang aktivis lingkungan, saya juga merasakan apresiasi baru bagi para pekerja yang terlibat di program konservasi ini. Aktivisme tidak berhenti sampai pada advokasi untuk isu yang diperjuangkan, tetapi juga mencakup aksi untuk memperbaiki isu itu sendiri, dan para pekerja yang ada di program ini adalah orang-orang yang secara langsung berkontribusi kepada kehidupan hutan kita. Mungkin kita tidak bisa turun langsung ke lapangan seperti para pekerja di sini. Namun, satu hal yang bisa kita lakukan adalah mendukung organisasi dan yayasan yang bergerak di bidang tersebut, salah satunya adalah ASRI. Menurut saya, kontribusi kita untuk melindungi dan melestarikan bumi ini tidak seharusnya dibatasi oleh apapun, maka mari kita hilangkan kata-kata ‘saya tidak bisa’ atau ‘saya tidak tahu.’ Hari ini, saya mengajak kita semua untuk mengambil tugas dan peranan kita masing-masing dalam mencintai lingkungan ini. Semua berawal dari diri kita sendiri.

 

Artikel ditulis oleh: Belai Djandam, Relawan ASRI dari Indonesia (2020)