Oleh Aris Munandar
17 December 2021
Ecopolybag dari Pandan Duri Tingkatkan Produktivitas Ibu-Ibu Desa Mawang Mentatai dan Nusa Poring

Di ruang tamu rumahnya, Ononlia (52) tampak tengah asik bersilat jari. Di hadapannya ada beberapa anyaman berupa wadah berbentuk tabung yang sudah jadi. Di sisi kirinya ada seikat daun sejenis pandan-pandanan yang sudah kering. Di sisi yang sama juga ada juga ada pisau bergagang panjang yang lebih mirip tongkat untuk  membelah daun.

 

“Ini kajang. Saya lagi membuat lojok,” ucapnya sembari jari telunjuk kanannya mengarah pada seikat daun pandan kering yang siap dianyam. Kajang adalah sebutan untuk pandan duri (Pandanus tectorius) oleh warga Desa Mawang Mentatai dan desa-desa sekitarnya di Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi. Merupakan tanaman tropis yang biasa hidup di pantai berpasir hingga hutan dataran tinggi.

 

Sementara lojok adalah anyaman dari kajang yang berbentuk tabung berukuran 7x18 cm. Digunakan sebagai wadah perkakas rumah tangga berukuran kecil. Selain dibuat lojok, kajang juga bisa dibuat tikar untuk alas duduk atau untuk menjemur gabah. Juga dibuat keranjang yang diberi tali untuk dipanggul. Biasa digunakan saat musim panen padi sebagai wadah penampungan tangkai padi. Ada lagi jenis anyaman lain berupa caping atau warga lokal menyebutnya tanggui.

 

Tak sampai 10 menit, tangan terampil Ononlia sudah menghasilkan 1 lojok. Ononlia mengatakan bahwa saat sedang punya luang dan tak pergi ke ladang, ia bisa menganyam 40 lojok dalam sehari. Membuat lojok ini tak perlu waktu khusus. Ononlia mengatakan pernah menganyam 400 lojok dalam 2 minggu. “Dalam 2 minggu itu saya bisa dapat 1 juta,” katanya sembari tertawa kecil.

 

Dinilai Ononlia, jumlah uang yang didapatkannya terbilang besar untuk sekedar mengisi waktu luang. Ia pun berseloroh bahwa membuat ecopolybag adalah pekerjaan yang mudah dan santai. “Kalau orang mau belajar bikin ini pun mudah,” katanya menawarkan sembari memelankan proses menganyam agar bisa diperhatikan dengan seksama. 

 

Lojok hasil olahan tangan terampil Ononlia dan wanita-wanita lain dari 9 dusun di 2 desa penyangga Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya itulah yang dibeli dan digunakan oleh Tim Alam Sehat Lestari-Bukit Baka Bukit Raya (ASRI-BBBR) untuk menjadi wadah bibit pohon kayu keras dan pohon buah. Sebagai pengganti polybag dari plastik yang dianggap tak ramah lingkungan dan berpotensi mencemari alam. Sehingga dapat meningkatkan kualitas kegiatan penanaman kembali hutan dan lahan yang kritis tanpa meninggalkan limbah sampah plastik.

 

Seperti yang dijelaskan lebih lanjut oleh Asisten Manager Program Replikasi ASRI-BBBR, Barrata, ecopolybag ini merupakan sebuah polybag yang terbuat dari bahan alami. “Jadi ecopolybag ini merupakan polybag yang ramah lingkungan. Artinya polybag yang bisa dan mudah diurai oleh alam,” ujarnya.

 

Pandan berduri ini hanya satu dari sekian bahan alami yang dapat digunakan sebagai wadah tanam ramah lingkungan. Ada juga bambu, nipah, dan bahan-bahan alami lainnya. 

 

Melalui skema pembayaran biaya berobat di Klinik ASRI Nusa Poring dan Mawang Mentatai dengan bibit, masyarakat diarahkan untuk menanam menggunakan ecopolybag ini. Bibit kayu keras dan bibit buah yang diserahkan masyarakat sebagai pengganti biaya berobat pun disimpan sementara di dalam persemaian hingga siap ditanam di hutan dan lahan kritis milik masyarakat. 

 

Warga Dusun Nanga Dawai, Desa Nusa Poring, Kecamatan Menukung saat hendak menyerahkan bibit yang wadahnya menggunakan ecopolybag untuk biaya berobat, Rabu (13/10).

 

“Ecopolybag ini sendiri memang kami arahkan untuk difungsikan sebagai polybag pada umumnya. Artinya jika masyarakat ingin menanam bibit-bibit pohon keras atau buah, maka masyarakat diarahkan untuk menggunakan ecopolybag yang lebih ramah lingkungan,” ujarnya.

 

Setidaknya ada 2 alasan yang melatarbelakangi pilihan ASRI-BBBR menggunakan ecopolybag dari pandan duri. Pertama, ASRI melihat adanya resiko buruk terhadap kelestarian alam jika masyarakat terus menerus menggunakan polybag plastik. Karena berpotensi mencemari lingkungan dengan limbah plastik yang membutuhkan waktu panjang agar dapat terurai. Karenanya perlu dicari alternatif pengganti polybag plastik yang lebih ramah lingkungan. Lojok yang berbahan alami dan mudah terurai oleh alam pun menjadi pilihan.

 

“Sehingga ASRI melihat bahwa kenapa kita tidak melihat alternatif yang lebih ramah lingkungan. Nah ASRI melihat ecopolybag ini karena terbuat dari bahan alam dan mudah terurai, tidak menimbulkan resiko sampah plastik di alam,” katanya. 

 

Sementara itu, lojok yang merupakan produk kebudayaan masyarakat setempat yang berbentuk anyaman juga mayoritas dikerjakan oleh kaum perempuan. Sehingga ASRI melihat bahwa aktivitas pembuatan ecopolybag ini sebagai bentuk pemberdayaan kaum perempuan untuk meningkatkan ekonomi rumah tangga sekaligus melestarikan kebudayaan. 

 

Karena penggunaan ecopolybag sebagai wadah bibit ini terbilang baru di desa-desa penyangga Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya, masih butuh pembiasaan di tengah masyarakat. “Kita pelan-pelan menggunakan ecopolybag. Harapan ke depan, masyarakat bisa beralih menggunakan ecopolybag. Sehingga kita bisa melihat bahwa masyarakat semakin menyatu dengan penggunaan ecopolybag,” ujar Barrata. 

 

Namun penggunaan ecopolybag bukan hal baru bagi ASRI.  Beberapa waktu sebelumnya di Kabupaten Kayong Utara, ASRI telah menggunakan ecopolybag untuk wadah bibit. Pertengahan tahun 2021 lalu, ASRI telah  menandatangani kerjasama dengan masyarakat dari 3 kelompok kemitraan konservasi binaan Taman Nasional Gunung Palung untuk membuat 35 ribu ecopolybag dari bahan bambu untuk jangka waktu 5 bulan. Tahun sebelumnya, ASRI juga membeli 15 ribu ecopolybag dari kelompok binaan dari Desa Laman Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang.