Oleh Aris Munandar
21 December 2021
Gotong Royong Mendistribusikan Buku Ke Desa-Desa Penyangga Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya

Di Desa Nusa Poring dan Desa Mawang Mentatai yang masing-masing berjarak kurang lebih 5 jam dari ibukota Kabupaten Melawi dan berdampingan langsung dengan kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, buku terbilang sulit didapatkan. Karena di 2 desa ini hampir tak ada perpustakaan. Baik itu perpustakaan desa, maupun perpustakaan komunitas. Yang ada hanya perpustakaan sekolah dengan referensi buku yang terbatas.

 

Untuk mendapatkan bacaan alternatif dari internet pun terkendala. Akibat 2 desa itu sebagian besar tidak terjangkau sinyal. Mengingat daerah tersebut adalah perbukitan dan pegunungan. Hanya di titik-titik tertentu seperti daerah tinggi sinyal internet dapat dijangkau.

 

Indeks literasi Indonesia yang terbilang rendah pun dapat dipahami di tengah kondisi tersebut. Seperti hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) pada 2015 yang memposisikan Indonesia berada di urutan ke-64 dari 72 negara. Sedangkan setahun setelahnya dalam publikasi survei bertajuk The Most Literate Nations dari Central Connecticut State University, Indonesia berada di urutan 60 dari 61 negara. Satu tingkat di atas Botswana.

 

Sementara dalam ruang lingkup dan perbandingan yang lebih kecil, yaitu antar provinsi di Indonesia, hasil kajian bertajuk Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Alibaca) 34 Provinsi dari Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan (Puslitjak Dikbud), Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan (Kemdikbud) bisa dijadikan acuan.

 

Publikasi tahun 2019 itu berkesimpulan bahwa aktivitas literasi di Indonesia masuk dalam kategori rendah. Sementara 9 provinsi masuk dalam kategori sedang, 24 provinsi masuk dalam kategori rendah, dan 1 provinsi masuk dalam kategori sangat rendah. Kalimantan Barat berada di urutan ke 32 atau masuk 3 terendah bersama Papua dan Papua Barat.

 

Tentu Puslitjakdikbud tak ujug-ujug memeringkatkan. Ada 4 dimensi yang menjadi pisau bedahnya, yaitu dimensi kecakapan, dimensi akses, dimensi alternatif, dan dimensi budaya yang dinilai, merujuk pada metode yang digunakan Miller dan McKenna dalam World Literacy: How Countries Rank and Why It Matters yang dipublikasikan tahun 2016 lalu. Di dalamnya, Puslitjakdikbud memuat ada 16 indikator yang dianalisis.

 

Secara nasional dari 4 dimensi itu tampak dimensi kecakapan yang memuat indikator melek huruf latin dan rata-rata lama sekolah memperoleh nilai tertinggi. Hal ini menunjukkan kemampuan membaca bukanlah persoalan utama. Persoalan mendasar ada di dimensi akses yang memperoleh nilai terendah dan akibat buku yang tak terdistribusi ke daerah-daerah terpencil atau pedalaman. Rendahnya Indeks Alibaca karena akses yang sulit berpengaruh pada dimensi budaya dan dimensi alternatif.

 

Kondisi ini terbilang miris lantaran peran sentral literasi dalam segala sendi kehidupan dan kemajuan sebuah bangsa. Termasuk juga dalam menumbuhkan pemahaman masyarakat akan pentingnya menjaga alam dan lingkungan. Seperti yang disampaikan oleh Direktur Program Alam Sehat Lestari (ASRI) Juanisa Andiani, kemampuan literasi seseorang dapat menjadi penentu apakah dia akan menjadi manusia modern yang eksploitatif terhadap alam dan mencemari lingkungan atau sebaliknya, manusia yang mampu mengembangkan diri dan hidupnya selaras dengan alam dan lingkungannya.

 

Lanjut Juanisa, prinsip kesehatan planetari yang diusung ASRI juga didasari dengan menemukan keseimbangan antara menjaga dan mengutilisasi Sumber Daya Alam (SDA) yang tersedia. Sehingga masyarakat maupun alam dapat saling menjaga keberlangsungan satu sama lain di planet bumi.

 

“Oleh karena itu, kemampuan literasi adalah modal yang sangat penting agar manusia dapat berkembang di era modern ini. Sambil mencari cara terbaik agar alam dan lingkungan mereka tetap terjaga,” ucapnya.

 

Juanisa pun menuturkan kondisi literasi di 2 desa itu yang berada di wilayah terpencil dan tidak memiliki akses internet terlihat memiliki dampak pada kemampuan literasi masyarakatnya. Ia mengakui bahwa belum ada survei menyeluruh terkait kondisi literasi di 2 desa itu. Tetapi terdapat masyarakat yang mengeluhkan kemampuan baca anak-anak mereka yang belum fasih membaca di tingkat atas Sekolah Dasar.

 

“Pengalaman dari tim medis ASRI juga menemukan beberapa orang dewasa yang belum pandai membaca. Ini menjadi krusial saat dokter memberi obat dan mereka tidak mampu membaca petunjuk penggunaan obatnya,” katanya. Deskripsi Juanisa terkait literasi di 2 desa itu menjelaskan kekurangan dalam dimensi kecakapan, akses, dan alternatif yang secara langsung berpengaruh terhadap dimensi budaya.

 

Di tengah kondisi itu, ia pun mengatakan bahwa sarana dan prasarana literasi berpengaruh signifikan pada indeks literasi. Seperti minimnya buku bacaan, infrastruktur seperti perpustakaan sekolah dan desa, serta keterbatasan waktu dan kapasitas guru atau orangtua menjadi faktor penting pada rendahnya tingkat literasi.

 

“ASRI menyadari kebutuhan akan peningkatan kemampuan literasi yang tinggi di 2 desa binaannya di Nusa Poring dan Mawang Mentatai. Sehingga ASRI melalui support pendanaan Tropical Forest Conservation Act (TFCA) Kalimantan membangun Taman Baca yang juga berkolaborasi dengan guru dan sekolah di kedua desa,” ujarnya.

 

Rencana bangunan untuk Taman Baca ASRI di Mawang Mentatai.

 

Hal ini sesuai dengan permintaan masyarakat dan guru setempat, untuk meningkatkan kualitas dan fasilitas pendidikan di desa sehingga anak-anak tidak perlu keluar ke kota dan mengeluarkan biaya yang besar untuk mendapatkan ilmu yang terbaik. Serta mendukung program Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang didalamnya termasuk Gerakan Literasi Sekolah, Gerakan Literasi Masyarakat, dan Gerakan Literasi Keluarga.

 

Kata Juanisa, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), komunitas, dan masyarakat luas dapat melakukan hal yang sama, datang dan mendengarkan kebutuhan masyarakat. Kemudian berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mewujudkan hal tersebut.

 

Sementara itu bicara lebih lanjut mengenai upaya menghadirkan Taman Baca tersebut, Koordinator Edukasi ASRI-BBBR, Septiana mengatakan bahwa alasan lainnya adalah agar  bisa membantu mempermudah  anak-anak di 2 desa penyangga ini  lebih mudah mengakses buku berkualitas. “Saat  pembuatan  Taman Baca, ASRI  bekerjasama  dengan pihak sekolah  dan pemerintah  desa,” ujarnya.

 

Tim ASRI-BBBR bersama Kepala Sekolah SDN 15 Mawang Mentatai berfoto bersama usai meninjau lokasi Taman Baca ASRI di Desa Mawang Mentatai

 

ASRI pun mengajak masyarakat luas untuk bergotong royong dan mendukung program pemerintah meningkatkan indeks literasi di masyarakat dan mengatasi masalah distribusi buku di daerah terpencil seperti Desa Nusa Poring dan Mawang Mentatai. Dengan mendonasikan buku melalui ASRI untuk selanjutnya disalurkan ke Taman Baca di 2 desa penyangga Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya itu.

 

“Taman  baca akan beroperasi mulai  dengan Februari  2022. Untuk mewujudkan harapan agar bisa meningkatkan kemampuan membaca hingga akhirnya meningkatkan budaya baca di desa-desa itu, tentu ASRI butuh orang-orang yang peduli untuk bersama bergotong royong mewujudkannya,” pungkasnya.