Oleh Aprilia Fatmawati
09 July 2021
di Umum , Umum
Keinginan Tonias dari Hutan

Tonias, pemuda yang tinggal di dekat hutan lebat belum pernah sekalipun masuk ke dalam hutan. Suatu hari selendang kesayangan ibunya yang terjemur terbawa angin besar dan menghilang ke dalam hutan. Dengan memberanikan diri, Tonias masuk ke dalam hutan untuk pertama kali. Berjalan ke jauh, Tonias malah tersesat. Tiba-tiba ia mendengar suara tangisan. Tonias menyibak semak-semak pada sumber suara.

Ia adalah peri hutan, namanya Ollan, yang seharian tersangkut di semak-semak. Sebenarnya ia tidak suka manusia masuk ke dalam hutan. Dulu Ollan tinggal di hutan lain namun terusir karena manusia menebang banyak pohon. Namun melihat ketulusan Tonias yang menyelamatkannya, Ollan percaya Tonias manusia baik bukan seperti lainnya. Sebagai balas budi, Ollan membantu Tonias menemukan selendang. Selama berkeliling mencari bersama hingga ketemu, Tonias mengenal lebih dekat isi hutan. Ollan senang memiliki teman yang bisa diajak bicara dan meminta Tonias kembali datang. Tonias mengiyakan.

Beberapa hari kemudian Tonias muncul. Tonias sadar kalau tidak menepati janji, namun ibunya tengah sakit. Ollan memberikan obat dari dedaunan yang berasal dari pohon besar berbatang oranye yang belum pernah dijumpai Tonias dimanapun.

Benar saja, perlahan kondisi ibu membaik begitu Tonias mengobati dengan dedaunan dari hutan. Tonias tidak langsung kembali ke hutan berterima kasih kepada Ollan. Beberapa hari barulah Tonias masuk ke hutan dengan wajah bersedih. Tonias bercerita dipan tempat ibunya biasanya tidur tiba-tiba rusak, ia tidak punya uang membeli yang baru.

“Alyussi nama pohon ini memiliki banyak manfaat. Selain daunnya sebagai penyembuh, batangnya kokoh bisa untuk membuat tempat tidur dan apapun. Ambilah satu pohon,” Jelas Ollan. “Tapi janji ya, jangan ceritakan rahasia pohon ini kepada siapapun. Aku takut manusia lain ingin merampas banyak dari hutan ini. Aku cuma percaya kamu yang bisa jaga hutan.”

Tonias pun membawa pulang sebatang pohon yang bisa diubahnya menjadi dipan cantik.

Tonias kembali ke hutan pada hari berikutnya. Ia bercerita lemari ibunya dimakan rayap, jadinya tidak bisa menyimpan pakaian-pakaian termasuk selendang. Tonias meminta ijin menebang satu pohon untuk dijadikan lemari. Kali ini Ollan memberikan syarat untuk menanam bibit pohon baru sebagai pengganti setiap pohon yang diambilnya. Tonias menyetujuinya.

Hari selanjutnya, Tonias meminta dua batang pohon untuk dijadikan meja makan dan kursi sehingga ia dan ibunya tidak lagi menyantap sarapan di lantai. Sebagai gantinya dia menanam dua bibit pohon baru.

Suatu hari paman-paman Tonias dari kota berkunjung ke rumah. Mereka mengagumi meja makan, kursi, dipan dan lemari berwarna oranye asli bukan dari cat dan itu belum pernah dijumpai di kota. Ibu bercerita, kayu oranye berasal dari hutan dekatnya. Paman-pamannya membayangkan uang akan mengalir dari penjualan mebel. Tonias melarang mereka mengambil pohon-pohon dari hutan. Keceplosan bilang kalau hanya ia yang diijinkan menebangnya, paman-pamannya memaksa Tonias melakukannya. Sebagai imbalannya Tonias akan disekolahkan di kota dan ibunya akan hidup layak dari sebagian penjualan. Karena tidak ingin hidup susah, Tonias pun menyetujui.

Diam-diam tanpa sepengetahuan peri hutan, Tonias memotong pohon jumlah banyak Tonias melupakan janjinya untuk menanam pohon baru untuk setiap pohon yang ditebangnya. Setiap dia menebang, ia tidak ingat berapa pohon yang ditebangnya. Kewalahan menebang pohon dan membawanya keluar dari hutan, Tonias pun meminta bantuan paman-pamannya. Ollan mengetahui kedatangan manusia lain ke dalam hutan yang menebang pohon seenaknya akhirnya marah kepada Tonias. Pemuda itu malah menyepelekan Ollan dan merasa hutan masih memiliki banyak pohon.

Kegiatan menebang diambil alih oleh paman-pamannya sementara Tonias berangkat sekolah di kota. Dari pohon-pohon itu, paman-pamannya menjadi kaya raya. Dua tahun berlalu, Tonias mendapatkan kabar kalau rumah ibunya terkena banjir. Tonias pulang ke kampung halaman. Ibu yang selamat mengatakan bahwa banjir terjadi karena hutan gundul. Tidak ada pepohonan yang mengikat air tanah, sehingga air hujan datang menjadi banjir.

Hutan tempat bermain Tonias dan Ollan bukan lagi hutan yang dulu. Tidak lagi meneduhkan dengan lebatnya pepohonan yang hijau, tidak lagi hewan-hewan berkeliaran, tidak ada lagi buah yang bisa dinikmati, yang ada gersang. Tonias memanggil-manggil Ollan namun balasan suara sang peri hutan tidak menyahut. Ia menyadari kebodohannya. Peri hutan memintanya ikut menjaga hutan, namun ia malah terlalu banyak keinginan dari hutan yang membuatnya serakah dan membiarkan paman-pamannya meneruskan menebang tanpa terkendali. Pasti peri hutan mencari hutan lain yang bisa dijaganya.

Tonias kembali tinggal di dekat hutan dan menjadi penjaga hutan sembari berharap peri hutan datang berkunjung. Setiap hari ia menanam bibit pohon baru. Tonias berjanji untuk melestarikan hutan dan tidak membiarkan tangan-tangan jail manusia merusak hutan.