Oleh Aris Munandar
20 July 2022
Membantu Mantan Penebang Hutan Mengakses Alternatif Mata Pencaharian

Semua orang akan senang jika selama ia hidup, selalu dapat menghirup udara yang menyegarkan. Juga air bersih yang berlimpah dan setiap saat bisa dimanfaatkan. Serta pemandangan hijau menyenangkan dan rasa aman dari ancaman bencana ekologi karena masih lestarinya alam dan lingkungan. Namun bagaimana jika hidup menyenangkan itu dihadapkan dengan keadaan tak ada yang dapat disuguhkan di meja makan? Belum lagi desakan biaya pendidikan anak dan layanan kesehatan semua anggota keluarga.

 

Keadaan itu jamak ditemui pada masyarakat di sekitar kawasan hutan. Hal ini terjadi karena keterbatasan akses ekonomi, tingkat pendidikan, dan pengetahuan akan pemanfaatan hutan yang lestari. Sebab itu pula yang menjadikan aktivitas menebang di hutan jadi pilihan mata pencaharian. Jika satu gergaji mesin (chainsaw) dapat menumbangkan ratusan pohon dalam setahun, bayangkan dampak bagi ekosistem hutan jika sebagian masyarakat di pinggiran hutan menjadikan aktivitas menebang sebagai sumber ekonominya.

 

ASRI menyadari bahwa pendekatan ekonomi adalah cara yang tepat untuk menjaga hutan agar tetap lestari. Oleh karenanya pada Senin, 4 Juli 2022 lalu, melalui program replikasinya di desa penyangga Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya meluncurkan program Chainsaw Buyback.

 

Koordinator Chainsaw Buyback di Program Replikasi ASRI-Bukit Baka Bukit Raya, Martinus Jihan mengatakan bahwa program ini diinisiasi agar para penebang pohon dapat berhenti menebang di hutan tanpa mengesampingkan kepentingan ekonominya dengan beralih menjadi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). ASRI menjalankan program ini dengan kerjasama dari Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya dan dukungan pendanaan dari Tropical Forest Conservation Act – Kalimantan (TFCA-K).

 

Program ini dimulai dengan sosialisasi di tengah masyarakat tentang dampak buruk merusak hutan dan alternatif pekerjaan yang bisa dilakukan selain aktivitas menebang. Sekaligus menjelaskan keberadaan program ini. Kemudian penebang pun didekati secara langsung untuk menjadi mitra ASRI dam program ini.

 

Penebang yang mau beralih pekerjaan menjadi pelaku UMKM ini pun diberi pendampingan dalam perencanaan usaha. Usai itu, gergaji mesin yang digunakan untuk menebang diserahkan kepada ASRI dan disaksikan perwakilan Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Disertai penandatanganan perjanjian agar tidak kembali ke hutan untuk menebang. Setelahnya, modal usaha akan diberikan dan pendampingan usaha mulai dari perencanaan usaha, pengelolaan keuangan, sampai pemasaran akan rutin dilakukan ASRI.

Pada peluncuran program chainsaw buyback ini, 3 penebang dari Desa Nusa Poring memutuskan untuk bergabung. Saat penyerahan gergaji mesin dan penandatanganan perjanjian, hadir perwakilan Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Kepala Desa Nusa Poring, dan jajaran staf ASRI. Peserta chainsaw buyback juga ditemani istri masing-masing agar juga dapat ikut serta dan terlibat dalam pengembangan usaha, sekaligus menjadi saksi bahwa suaminya tidak akan kembali menebang.

 

Satu di antaranya adalah Bulang Heroni yang berasal dari Dusun Mengkilau, Desa Nusa Poring. Usai puluhan tahun bolak-balik hutan dan aktif menjadi penebang, ia kini menyerahkan gergaji mesinnya kepada ASRI dan diberi modal usaha untuk beternak ayam dan ikan. Ia pun menjadi salah satu orang pertama yang ikut program chainsaw buyback. “Aku harus jadi contoh masyarakat. Biar masyarakat bisa menyadari kalau ada kerja lain yang bisa buat makan,” ujarnya.

 

Bulang kini juga menyadari dampaknya bagi hutan saat ia memutuskan untuk beralih mata pencaharian. Oleh karenanya, ia pun mendukung penuh tujuan program yang digagas ASRI bekerja sama dengan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya untuk menjaga hutan sekaligus mensejahterakan masyarakat ini. Bulang pun berharap pilihan yang diambilnya bisa diikuti oleh masyarakat.

 

“Kalau mau jadi contoh, kita yang harus memulai dulu. Lalu saya juga memberikan contoh yang baik kepada masyarakat bagaimana menjaga hutan dengan benar-benar berhenti menebang dan fokus memulai usaha saya,” ucap ayah dari 4 anak ini.

 

Pilihan yang sama juga diambil Luwi yang berasal dari Dusun Sekujang, Desa Nusa Poring. Dia pun bercerita bahwa bekerja di hutan itu dipenuhi dengan resiko, memakan ongkos yang banyak, dan merupakan pekerjaan berat yang menguras fisik. Usai menyerahkan gergaji mesinnya kepada ASRI, dia pun kini tengah memulai pekerjaan barunya mengusahakan warung sembako. “Saya berjanji mengikuti segala perjanjian untuk tidak menebang lagi dan fokus pada usaha sembako saya,” kata pria yang pernah menjabat sebagai Kepala Dusun Sekujang ini.

 

Program chainsaw buyback ini sebelumnya sudah dijalankan ASRI di desa-desa penyangga Taman Nasional Gunung Palung di Sukadana, Kayong Utara sejak 2017. Sampai dengan 20 Juli 2022, sudah ada 234 gergaji mesin yang diserahkan kepada ASRI dan diperkirakan puluhan ribu pohon di hutan diselamatkan.

 

Kesuksesan yang sama juga ingin diulang ASRI di program replikasinya di desa penyangga Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Martinus Jihan kembali mengatakan bahwa melalui program ini, diharapkan ada perubahan pola pikir di masyarakat sekitar kawasan hutan bahwa untuk menghidupi diri dan keluarga tidak harus menjadi penebang di hutan yang punya banyak resiko seperti resiko keselamatan dan resiko dampak melanggar hukum.

 

“Dengan menyerahkan chainsaw, masyarakat dapat mulai menjadi pelaku UMKM, baik itu perdagangan, produksi, maupun jasa dengan modal yang diberikan oleh ASRI. Lalu mendapat pendampingan usaha secara rutin. Menjaga hutan dibarengi dengan memastikan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan hutan pun dapat dilakukan,” ujarnya.

Sementara itu, Pelaksana Harian (Plh) Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Doni Maja Perdana mengatakan bahwa kerja sama antara Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya dan ASRI dalam program chainsaw buyback merupakan langkah tepat dari aspek kelestarian kawasan dan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan. “Program ini bisa mengurangi logger yang mengambil kayu di Taman Nasional. Ini menjadi bagus karena logger tidak hanya menukarkan chainsaw, tetapi logger tersebut juga diberi insentif untuk memulai pekerjaan barunya untuk menggantikan sumber ekonomi lamanya. Dengan begitu mantan logger ini tidak akan kembali ke pekerjaan lamanya mengambil kayu di hutan,” katanya.

 

Ia juga mengatakan bahwa masyarakat di sekitar kawasan bisa tetap memanfaatkan hasil hutan bukan kayu (HHBK) di Taman Nasional Bukit Baka Bukit. Dengan begitu, Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya bisa bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat, sembari tetap bisa menjaga kelestarian alam dan keanekaragaman hayati di dalamnya.