Oleh Aris Munandar
17 July 2022
Merindukan Sungai Mentatai yang Terjaga Kelestariannya

Serombongan anak-anak berlarian mencoba saling mendahului. Sungai Mentatai akan menjadi garis finish. Masing-masing dari mereka membawa kacamata selam dan penembak ikan. Begitu sampai di pinggir, mereka pun langsung turun ke sungai.

 

Anak-anak dari Dusun Mengkilau, Desa Nusa Poring ini punya tujuan yang sama, yaitu menembak ikan untuk lauk makan malam. Tanpa meninggalkan kesenangan bermain dengan teman sebaya sambil mandi berendam dan berenang dalam sungai yang jernih.

 

Tiga puluh menit berlalu, mereka pun beranjak. Tentengan di tangan masing-masing anak bertambah dengan ikan-ikan yang siap menjadi lauk makan malam. Ada ikan semah, ikan tilan, ikan patik, dan ikan-ikan yang hidup di air deras lainnyayang mudah mereka temukan di sungai itu.

 

“Kalau di rumah tidak ada lauk untuk makan, tinggal terjun sebentar ke sungai. Pulangnya pasti membawa ikan untuk di masak,” Itulah kenangan yang diingat oleh Syamsudin, 40 tahun lalu. 

 

Jika dilihat sekilas, sungai yang memiliki panjang 65 kilometer ini memang masih tampak jernih. Kecuali ada hujan deras di perhuluan, air sungai akan keruh kecoklatan. Namun orang-orang yang lahir, hidup, dan menghabiskan sebagian besar umurnya di tepi Sungai Mentatai paham betul bahwa sungai ini telah berubah. 

 

 

Sam, panggilan akrabnya, adalah saksi bagaimana sungai terpanjang ke-3 di Kabupaten Melawi ini berubah dari waktu ke waktu. Sulitnya sekarang untuk mencari ikan adalah satu di antara sekian perubahan yang dirasakannya. Keadaan ini tentu sangat berbeda dengan waktu dia masih kecil. “Kalau mau dapat ikan buat lauk, kita harus jauh ke hulu dulu,” ujar pria berusia 53 tahun yang sekarang sedang menjabat sebagai Kepala Desa Nusa Poring itu.

 

Jumlah ikan di Sungai Mentatai yang menurun secara drastis bukan tanpa sebab. Di tahun 2000-an, menangkap ikan dengan racun mulai jamak dilakukan warga. Karena dengan racun ikan itu, menangkap ikan dalam jumlah banyak akan lebih mudah. Lebih menghemat waktu dan tenaga, jika dibandingkan dengan memancing, pukat, selam, dan cara-cara tradisional lainnya. Terbuai oleh kemudahan mengambil ikan dari Sungai Mentatai dengan racun, warga lupa bahwa aktivitas mereka itu akan berdampak buruk pada kelangsungan hidup ikan. 

 

Ikan yang ingin ditangkap memang hanya ikan yang berukuran besar. Namun anak-anak ikan dan ikan berukuran kecil pun ikut mati. Syamsudin pun ingat betul bangkai-bangkai ikan berukuran kecil dibiarkan mengapung di permukaan sungai dan hanyut di bawa arus. Ada juga yang menangkap ikan dengan cara menyetrum yang juga membuat ikan-ikan kecil mati.

 

“Ikan mau diambil sebanyak-banyaknya. Ketika tidak habis dimakan, lalu busuk dan dibuang. Belum lagi yang mengambil untuk di jual. Kalau kita tidak serakah dan hanya mengambil ikan secukupnya untuk makan, kita tak perlu bikin kolam dan pelihara ikan lele atau nila baru bisa makan ikan,” katanya. 

 

Bahkan yang tak punya kolam ikan, untuk memakan ikan harus menunggu dulu penjual sayur dari Nanga Pinoh yang datang hanya 3 kali seminggu. Jarak 120-an kilometer dan waktu tempuh selama 4 sampai 5 jam melewati medan khas perbukitan dengan jalan dari tanah kuning yang tak mudah dilalui, apalagi jika musim hujan, menjadikan harga ikan pun dapat naik 2 kali lipat.

 

Masalah yang tak kalah mengkhawatirkan adalah Sungai Mentatai yang kini kian dangkal. Akibat erosi tebing sungai yang membuat material tanah, batu, dan pasir gugur ke sungai. Erosi tebing sungai inipun diakibatkan oleh penebangan pohon di sekitar sungai. Sehingga pinggiran sungai gundul dan tebing sungai kehilangan akar sebagai pengikatnya.

 

Di Desa Nusa Poring dan Desa Mawang Mentatai yang warganya sebagian masih mengandalkan sungai sebagai transportasi utama, akan terhambat karena kondisi ini. Seperti Jainal (54 tahun) yang selalu berbelanja ke Menukung atau Serawai dan membawa hasil pertanian dari Desa Mawang Mentatai pun harus was-was agar klotok (longboat) miliknya tidak tersangkut ke bagian sungai yang dangkal. Jika musim kemarau dan air sungai teramat dangkal, ia lebih memilih tidak menurunkan klotoknya.

 

 

“Ini karena pohon-pohon di sekitar sungai banyak di tebang. Jadi tanahnya turun ke sungai. Sungai Mentatai jadi dangkal sekarang,” katanya.

 

Meski sudah ada jalan darat, Jainal tetap menjadikan sungai ini sumber pencaharian utamanya. Kondisi Sungai Mentatai yang mendangkal akibat erosi tebing sungai membuat aktivitas ekonominya terganggu.

 

Erosi tebing sungai tak hanya mengganggu pemilik-pemilik klotok seperti Jainal. Jika melintas melalui Sungai Mentatai melewati Dusun Nanga Dawai, Desa Nusa Poring, akan ada badan sungai yang tampak lebih lebar dari bagian sungai yang lain. Juga rumah warga yang bagian depannya sudah hancur lantaran tanahnya longsor ke sungai. 

 

“Dulu tidak di sini tepi sungainya. Masih 20-an meter ke depan,” kata Damianus Didi, warga Nanga Dawai. Saat itu ia tengah berdiri di pinggir sungai, sembari telunjuknya mengarah ke pinggiran sungai sebelum longsor. Bahkan di lokasi yang kini sudah menjadi sungai, dahulunya pernah ada rumah betang. 

 

Sungai Mentatai banyak mengalami kemunduran. Terjadinya erosi-erosi dan adanya pendangkalan serta berkurang drastisnya ikan. Juga kualitas airnya yang menurun hingga menyebabkan warga yang masih menggantungkan air minumnya dari sungai ini pun kian sering menderita diare. Melihat hal itu, Program Replikasi ASRI-Bukit Baka Bukit Raya pun berusaha mengembalikan kondisi sungai seperti yang dulu diingat oleh Syamsudin, Jainal, dan orang-orang lain yang masih sempat merasakan kondisi Sungai Mentatai yang masih terjaga.

 

 

Melalui penyuluhan, ASRI terus menerus memberikan pemahaman kepada masyarakat di 9 dusun di 2 desa penyangga Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya yang dilewati oleh Sungai Mentatai tentang pentingnya menjaga sungai dengan tidak membuang sampah sembarangan dan tidak melakukan aktivitas mandi, cuci, dan kakus langsung di sungai. Juga tidak menebang pohon di hutan dan di sekitar sungai agar terhindar dari banjir dan erosi tebing sungai yang akhirnya merugikan masyarakat sendiri.

 

Di akhir tahun lalu ASRI memberikan 500 saringan air minum untuk masyarakat di 2 desa ini untuk menanggulangi diare sebagai dampak konsumsi air sungai tercemar tanpa dimasak. Kini masih dengan dukungan dari Tropical Forest Conservation Act-Kalimantan (TFCA-K) dengan ASRI juga akan menjalankan program pembangunan toilet untuk 215 keluarga dengan harapan bisa mengubah perilaku sanitasi masyarakat menjadi lebih baik dan menghentikan aktivitas mandi, cuci, dan kakus langsung ke sungai.