Oleh Bayu Satya Saputro
09 July 2021
di Umum , Umum
Sesama

Kami diajarkan merasa bahwa kamilah yang sempurna.
Nyatanya,
Kami berakal namun tak berpikir.
Kami bertangan namun tak berbagi.
Kami berkaki namun tak bertindak.
Kami biarkan kamu hancur, terlebur.
Tak acuh, tak tahu, tak mau.
Karena kami merasa kamu bukanlah sesama. Betulkah?
Nyatanya,
Kamu terbakar kami tercekik.
Kamu terbabat kami tergulung.
Kamu tercabut kami tercerabut.
Begitukah? Lalu apa yang berbeda sekarang?
Kamu sakit kami menjerit.
Kamu terbakar kami terkapar.
Kamu terpotong kami melolong.
Betulah, pencipta kita memilih kami untuk menjagamu.
Nyatanya, kamilah yang turut bergantung dengan keberadaanmu.
Apa yang berbeda sekarang?
Kamu beranak, kami pun beranak.
Kamu berinduk, kami pun berinduk.
Masihkah kita berbeda?
Air, tanpanya, kamu tak ada, kami pun begitu.
Surya, tanpanya kamu tak ada, kami pun begitu.
Patutkah kami pongah merasa mampu hidup tanpamu?
Jika tak ada lagi jenismu, mampukah kamu hidup sebatang diri?
Jika tak ada lagi jenis kami, jelas kami tidak bisa hidup sebatang diri.
Nyatalah, nyatalah, nyatalah. 
Kamu dan kami sama. 
Kita sesama.